I just saw a video about how to make oobleck by Babble Dabble Do that looks super easy and I think I need to try this with Q because it looks really fuuunnn~!!
Minggu lalu nggak sempet bikin playdate, karena masing2 pada punya planning beda-beda plus hujan yang lagi sering banget turun nggak tanggung-tangguhng dan bikin sebagian besar dari kami yang ngangkot dan naik motor jadi mager..
Playdate minggu ini kita majuin jadi Selasa, dan tetap di rumah mama Lisa, hehee.. daaan, karena dua minggu lalu kita kehabisan kancing dan nggak kelar bikin wall art nya, kali ini kita ulang dengan kancing yang lebih bwanyaaaaakkkk..!!
Hari itu kita disamperin Bunda Ade sekeluarga dari Jakarta yang lagi liburan di Bandung. Kenzie juga ikutan main kancing doong pastinyaaa..!!
Anteng banget deh anak-anak ini. Ada yang seneng banget mainin lem, sibuk bolak balik nemplokin lem ke kertas sampe minta kertas tambahan. Ada juga yang nggak mau jarinya lengket, jadi minta tolong ibunya buat ngolesin lem.
Dan ternyataaa masih ada juga yang pengen icip-icip rasa kancing. Antara pengen icip sama pengen menguji kesabaran emaknya mungkin, hahaa..
Seru deh main kancing hari ini. Masing-masing nempelin kancing warna-warni di atas kertas yang sudah di-print inisial nama mereka. Nggak perlu rapih lah, namanya juga bocah. Yang penting fun tentunya!
Anak-anak jadi berlatih untuk bersabar, latihan motorik halus juga, karena mesti nempelin kancing satu-satu ke bagian kertas yang sudah diberi lem. Selain itu mereka juga kita ajak mengenal benda, bentuk, ukuran dan warna. Bonusnya? Hasil karya kece yang bisa dipajang di wall of fame si kecil pas pulang ke rumah nanti..!!
See? Dengan bermain, anak-anak sebenernya bisa belajar banyak hal sekaligus, lho. Jadi jangan bosen nemenin mereka main ya moms n dads! ;)
![]() |
| Steamboat Shabu buat maksi anak-anak (dan ibunya) hari ini, yay! |
Anteng banget deh anak-anak ini. Ada yang seneng banget mainin lem, sibuk bolak balik nemplokin lem ke kertas sampe minta kertas tambahan. Ada juga yang nggak mau jarinya lengket, jadi minta tolong ibunya buat ngolesin lem.
Dan ternyataaa masih ada juga yang pengen icip-icip rasa kancing. Antara pengen icip sama pengen menguji kesabaran emaknya mungkin, hahaa..
Seru deh main kancing hari ini. Masing-masing nempelin kancing warna-warni di atas kertas yang sudah di-print inisial nama mereka. Nggak perlu rapih lah, namanya juga bocah. Yang penting fun tentunya!
Anak-anak jadi berlatih untuk bersabar, latihan motorik halus juga, karena mesti nempelin kancing satu-satu ke bagian kertas yang sudah diberi lem. Selain itu mereka juga kita ajak mengenal benda, bentuk, ukuran dan warna. Bonusnya? Hasil karya kece yang bisa dipajang di wall of fame si kecil pas pulang ke rumah nanti..!!
Udah lama banget pengen bikinin jalan-jalanan buat Q mainin mobil-mobilannya. Kebetulan ada papan nganggur dan masih bagus. Kebetulan juga S lagi in the mood of making a mini project. Klop deh! Langsung memanfaatkan keadaan dan kasih liat beberapa referensi toy car mat di Pinterest..
Malem itu S sibuk.. lalu ketiduran.. lalu dilanjut lagi pagi-pagi pas bangun tidur - beneran bangun tidur belom ngapa-ngapain langsung dilanjutin! hahahaa.. gitu deh emang kalau moodnya lagi bagus dan lagi nanggung kerjaannya.
Dan pas anaknya bangun, tentu sajaaaaa langsung ikutan sibuk jugaaa.. plus nggak sabaran pengen langsung dipake main itu mat-nya..
Aaaannd~
taa daaaa~
Jadilah juga si Toy Car Mat a la momoSat!
Karena gue nggak sempet foto step-by-step nya, jadi maafkan tutorialnya yang cuma bisa seadanya dan seingetnya yaa.. ^^!
DIY Toy Car Mat
Bahan:
- Untuk alasnya, bisa pakai papan, cardboard atau kardus bekas, atau apa aja yang bentuknya datar dan bisa digambar dan diwarnai.
- Pinsil, Penggaris, Cutter
- Isolasi kertas ukurang paling kecil (5mm), atau ukuran 1 cm dibagi dua (sebenernya ga dibagi dua juga gapapa sih, hahaa..)
- Cutting mat/kaca/alas untuk potong lainnya.
Cara bikinnya:
1. Kalau ingin alasnya hitam, bisa dicat pakai cat. Pilihannya bisa cat kayu atau cat acrylic. Atau cat semprot fancy yang suka ada di toko Hardware you-know-what.
2. Bikin garis batas dan marka jalan di atas papan menggunakan pinsil. Mau bikin kotak-kotak boleh, belok-belok pun ok.. bebas laaahh dikarang aja sendiri, hehee..
3. Tempelkan isolasi kertas mengikuti batas dan marka jalan yang sudah digambar sebelumnya.
Note:
Kalau mau lebih gampang, bisa aja langsung timpa gambar pinsil pakai spidol hitam/silver, jadi nggak perlu rempong potong-potong isolasi kertas buat marka dan batas jalannya.
Have a nice weekend!
Happy crafting!
Malem itu S sibuk.. lalu ketiduran.. lalu dilanjut lagi pagi-pagi pas bangun tidur - beneran bangun tidur belom ngapa-ngapain langsung dilanjutin! hahahaa.. gitu deh emang kalau moodnya lagi bagus dan lagi nanggung kerjaannya.
Dan pas anaknya bangun, tentu sajaaaaa langsung ikutan sibuk jugaaa.. plus nggak sabaran pengen langsung dipake main itu mat-nya..
Aaaannd~
taa daaaa~
Jadilah juga si Toy Car Mat a la momoSat!
Karena gue nggak sempet foto step-by-step nya, jadi maafkan tutorialnya yang cuma bisa seadanya dan seingetnya yaa.. ^^!
DIY Toy Car Mat
Bahan:
- Untuk alasnya, bisa pakai papan, cardboard atau kardus bekas, atau apa aja yang bentuknya datar dan bisa digambar dan diwarnai.
- Pinsil, Penggaris, Cutter
- Isolasi kertas ukurang paling kecil (5mm), atau ukuran 1 cm dibagi dua (sebenernya ga dibagi dua juga gapapa sih, hahaa..)
- Cutting mat/kaca/alas untuk potong lainnya.
Cara bikinnya:
1. Kalau ingin alasnya hitam, bisa dicat pakai cat. Pilihannya bisa cat kayu atau cat acrylic. Atau cat semprot fancy yang suka ada di toko Hardware you-know-what.
2. Bikin garis batas dan marka jalan di atas papan menggunakan pinsil. Mau bikin kotak-kotak boleh, belok-belok pun ok.. bebas laaahh dikarang aja sendiri, hehee..
3. Tempelkan isolasi kertas mengikuti batas dan marka jalan yang sudah digambar sebelumnya.
Note:
Kalau mau lebih gampang, bisa aja langsung timpa gambar pinsil pakai spidol hitam/silver, jadi nggak perlu rempong potong-potong isolasi kertas buat marka dan batas jalannya.
Have a nice weekend!
Happy crafting!
Cuaca Bandung lagi nggak ok nih. Kadang puanaaaass banget, terus nanti dingin lagi. Hujan turun hampir setiap hari. Virus di mana-mana dan anak-anak (beserta emak-bapaknya pun) jadi rentan sakit.
Playdate minggu ini yang ikutan cuma 3 tim. Tapi jangan khawatir, sedikitan pun tetep seruuu..!! :D
Hari itu kita main-main dengan dus bekas, lem dan kancing. Sebelumnya kita udah nge-print inisial masing-masing anak di atas kertas, lalu ditempel di kardus bekas dan digunting mengikuti bentuk masing-masing huruf.
Semua persiapan sampai huruf jadi dikerjakan sama para ibu, karena gunting dus itu pe-er juga ternyata. Tapi liat emak-emaknya pada sibuk gunting-gunting, anak-anak otomatis pada pengen ikutan juga doonngg.. jadilah kita kasih mereka gunting-gunting kertas yang udah nggak kepake aja daripada terjadi keributan di siang bolong, hahaa..
Setelah persiapan selesai, mulailah anak-anak nempel-nempelin kancing warna-warni ke masing-masing huruf. Pola tempel mereka beda-beda ternyata, mungkin sesuai dengan karakteristik masing-masing anak yaa..
Pssstt.. ada juga lho yang malah sibuk mainin kancing dan nggak tertarik ikutan nempel-nempel kayak kembarannya. See moms? Even twins could have different personalities! Hihiii..
Sayangnya karena persiapan dadakan dan miskomunikasi, si kancing yang kita siapin terlalu sedikit dan nggak cukup buat menuhin semua huruf, hahaaa.. Jadi pelajaran deh, besok-besok mesti prepare jauh-jauh hari untuk kegiatan anak-anak pas playdate. Lalu kita putuskan untuk ngulang lagi kegiatan tempel kancing ini untuk playdate 2 minggu lagi.
Setelah selesai main tempel kancing, anak-anak dibawa mama Lisa dan ibu Dhea jalan-jalan keliling komplek, mumpung sore itu belum hujan. Sementara itu, abang Ben "privat" finger painting, persiapan untuk lomba finger painting di sekolah besoknya.
Keren kaann hasil gambaran Ben..
Good luck lombanya ya Ben, have fuuun!
Playdate minggu ini yang ikutan cuma 3 tim. Tapi jangan khawatir, sedikitan pun tetep seruuu..!! :D
Hari itu kita main-main dengan dus bekas, lem dan kancing. Sebelumnya kita udah nge-print inisial masing-masing anak di atas kertas, lalu ditempel di kardus bekas dan digunting mengikuti bentuk masing-masing huruf.
Semua persiapan sampai huruf jadi dikerjakan sama para ibu, karena gunting dus itu pe-er juga ternyata. Tapi liat emak-emaknya pada sibuk gunting-gunting, anak-anak otomatis pada pengen ikutan juga doonngg.. jadilah kita kasih mereka gunting-gunting kertas yang udah nggak kepake aja daripada terjadi keributan di siang bolong, hahaa..
Setelah persiapan selesai, mulailah anak-anak nempel-nempelin kancing warna-warni ke masing-masing huruf. Pola tempel mereka beda-beda ternyata, mungkin sesuai dengan karakteristik masing-masing anak yaa..
Pssstt.. ada juga lho yang malah sibuk mainin kancing dan nggak tertarik ikutan nempel-nempel kayak kembarannya. See moms? Even twins could have different personalities! Hihiii..
Sayangnya karena persiapan dadakan dan miskomunikasi, si kancing yang kita siapin terlalu sedikit dan nggak cukup buat menuhin semua huruf, hahaaa.. Jadi pelajaran deh, besok-besok mesti prepare jauh-jauh hari untuk kegiatan anak-anak pas playdate. Lalu kita putuskan untuk ngulang lagi kegiatan tempel kancing ini untuk playdate 2 minggu lagi.
Setelah selesai main tempel kancing, anak-anak dibawa mama Lisa dan ibu Dhea jalan-jalan keliling komplek, mumpung sore itu belum hujan. Sementara itu, abang Ben "privat" finger painting, persiapan untuk lomba finger painting di sekolah besoknya.
Keren kaann hasil gambaran Ben..
Good luck lombanya ya Ben, have fuuun!
Hi! How's your weekend?
Playdate March+ minggu lalu kita jadwalin di hari Sabtu. Seperti biasa, kami potluck, masing-masing bawa makanan buat di-share rame-rame. Menu hari ini adalah nasi, mie goreng, ayam goreng, capcay, dan cream soup. Ada juga donat dan brownies buat cemal-cemilnya. Hwaaaa.. seneng deh kalau udah meetup gini banyak makanaaann..!! Hihiiii..
Kita main finger painting Sabtu ini. Bikin catnya sendiri, pakai tepung + air + pewarna makanan. Campur aja semua jadi satu! Takarannya? Suka-suka! Hahaaa.. diaduk terus dikira-kira aja sih maunya sekental apa..
Untuk media alasnya, pakai kertas yang agak tebel yah! Canson watercolor oke tuh. Kertas Concord atau Manila boleh juga. Kita pakai kertas hvs biasa, jadinya sebentar-sebentar para bocah minta kertas baru karena yang lama udah basah.
Karena hari sudah sore dan di luar habis hujan, jadilah kita main finger paint di dalam rumah. No problemo! Pakai aja alas tahan air dan atau koran beberapa lapis biar lantai nggak terlalu becek. Namanya juga bocah mainan cat, jadi jangan berharap lantai rumah bakalan mulus tak bercorak ya moms! ;)
Anyway, anak-anak happy banget main cat! Ada yang suka mainin cat pakai tangannya langsung, sementara yang lain lebih memilih pakai kuas. Daaann.. ada juga yang nggak tertarik finger painting dan malah asyik lari-lari atau main mainan yang lain! Hahaaa..
Playdate March+ minggu lalu kita jadwalin di hari Sabtu. Seperti biasa, kami potluck, masing-masing bawa makanan buat di-share rame-rame. Menu hari ini adalah nasi, mie goreng, ayam goreng, capcay, dan cream soup. Ada juga donat dan brownies buat cemal-cemilnya. Hwaaaa.. seneng deh kalau udah meetup gini banyak makanaaann..!! Hihiiii..
Kita main finger painting Sabtu ini. Bikin catnya sendiri, pakai tepung + air + pewarna makanan. Campur aja semua jadi satu! Takarannya? Suka-suka! Hahaaa.. diaduk terus dikira-kira aja sih maunya sekental apa..
Untuk media alasnya, pakai kertas yang agak tebel yah! Canson watercolor oke tuh. Kertas Concord atau Manila boleh juga. Kita pakai kertas hvs biasa, jadinya sebentar-sebentar para bocah minta kertas baru karena yang lama udah basah.
Karena hari sudah sore dan di luar habis hujan, jadilah kita main finger paint di dalam rumah. No problemo! Pakai aja alas tahan air dan atau koran beberapa lapis biar lantai nggak terlalu becek. Namanya juga bocah mainan cat, jadi jangan berharap lantai rumah bakalan mulus tak bercorak ya moms! ;)
Anyway, anak-anak happy banget main cat! Ada yang suka mainin cat pakai tangannya langsung, sementara yang lain lebih memilih pakai kuas. Daaann.. ada juga yang nggak tertarik finger painting dan malah asyik lari-lari atau main mainan yang lain! Hahaaa..
Heyhoo~
Jum'at lalu March+ playdate lagi di rumah mama Lisa. Kali ini temanya musik, dan anak-anak diajak bikin alat musik sendiri. Rencana awalnya mau bikin tiga alat musik sekaligus dalam satu hari, tapi karena beberapa kendala akhirnya cuma jadi bikin satu alat musik aja, yaitu marakas.
Ternyata bocah-bocah ini seneng banget bikin DIY maracas! Masing-masing sibuk sama botol dan beads. Ada yang suka nyampur beads secara random, ada juga yang cuma masukin beberapa jenis beads yang dia suka aja. Ada yang suka tutupnya dipakein tali warna-warni, ada yang lebih memilih untuk nggak pake tali. Mungkin menurut mereka si tali warna-warni ini justru agak gengges kali yaa..
Selain bikin marakas, anak-anak juga main dengan crayon dan piring kertas. Dua bahan ini juga bisa jadi mainan macem-macem mainan buat si kecil. Ada yang suka diajak corat-coret di bagian belakang piring kertas yang polos, ada juga yang malah lebih seneng jadiin piringnya buat alas, lalu crayonnya ditaruh di atasnya, dan dibawa jalan-jalan, hahaaaa..
Main-main siang itu jadi reminder bahwa every kids are unique and different. Semua punya kesukaan masing-masing. Meskipun kita punya tema untuk kegiatan playdate ini tiap minggunya, tapi praktek akhirnya sih tetap kita serahkan sama para bocah, terserah mereka mau mainnya digimanain, kita cukup ngarahin aja.
Let the kids have their own way to play and learn everything.
Emak-emak mah duduk santai aja laaaahh..
Jum'at lalu March+ playdate lagi di rumah mama Lisa. Kali ini temanya musik, dan anak-anak diajak bikin alat musik sendiri. Rencana awalnya mau bikin tiga alat musik sekaligus dalam satu hari, tapi karena beberapa kendala akhirnya cuma jadi bikin satu alat musik aja, yaitu marakas.
Ternyata bocah-bocah ini seneng banget bikin DIY maracas! Masing-masing sibuk sama botol dan beads. Ada yang suka nyampur beads secara random, ada juga yang cuma masukin beberapa jenis beads yang dia suka aja. Ada yang suka tutupnya dipakein tali warna-warni, ada yang lebih memilih untuk nggak pake tali. Mungkin menurut mereka si tali warna-warni ini justru agak gengges kali yaa..
Selain bikin marakas, anak-anak juga main dengan crayon dan piring kertas. Dua bahan ini juga bisa jadi mainan macem-macem mainan buat si kecil. Ada yang suka diajak corat-coret di bagian belakang piring kertas yang polos, ada juga yang malah lebih seneng jadiin piringnya buat alas, lalu crayonnya ditaruh di atasnya, dan dibawa jalan-jalan, hahaaaa..
Main-main siang itu jadi reminder bahwa every kids are unique and different. Semua punya kesukaan masing-masing. Meskipun kita punya tema untuk kegiatan playdate ini tiap minggunya, tapi praktek akhirnya sih tetap kita serahkan sama para bocah, terserah mereka mau mainnya digimanain, kita cukup ngarahin aja.
Let the kids have their own way to play and learn everything.
Emak-emak mah duduk santai aja laaaahh..
Kapan sih bagusnya bawa anak untuk main ke museum? Nunggu sampe SD? Saat mereka mulai tertarik sama yang namanya dinosaurus? Atau nanti aja kalau mereka udah belajar tentang Sejarah di sekolahnya??
Outing pertama March+ Bandung bulan ini kita putusin (secara mendadak sehari sebelumnya) untuk berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika Bandung, hari Jumat lalu. Ada 6 toddlers dan 2 preschoolers yang ikutan hari itu.
Beberapa orangtua mungkin memutuskan untuk menunggu sampai si anak bisa benar-benar "ngerti" isi museum yang akan dikunjungi. Tapi menurut beberapa artikel yang gue baca seperti di sini, ini dan ini, nggak ada patokan khusus umur berapa anak-anak sebaiknya diajak ke museum.
Pada dasarnya, anak-anak suka dengan hal-hal baru. Tinggal gimana kitanya aja sebagai orangtua ngenalin hal tersebut sama mereka.
Sebelum masuk ke dalam Museum KAA, kita makan dulu di teras museum, karena beberapa anak (dan emaknya) ada yang belum makan siang. Di teras museum ini ada beberapa meja dan kursi yang bisa dipakai untuk umum. Sementara nunggu yang pada makan, anak-anak cowok ini main perosotan di ram depan pintu masuk museum.
Jangan heran yaa, kalau sering liat foto macam gitu, hehee.. Kami memang terbiasa membiarkan anak-anak bermain semaunya, selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. They are just kids, and they need to explore pretty much everything, so chill out moms!
Bayangin kalau kita di posisi mereka, pasti isi otaknya kurang lebih begini..
"Waaahh.. yang ini jalannya miring. Bisa nggak yah dipake sliding?? (lalu dicobalah)
Yay, bisaaaaa..!! (lalu dicoba lagi, lagi, lagiii...)"
As simple as that! Nggak perlu dibikin pusing lah yaaa..
Anyway, ketika masuk ke dalam museum, anak-anak memang tampak nggak tertarik sama foto-foto yang terpajang lengkap dengan cerita seputar KAA yang berlangsung pada tahun 1955 itu. Mereka lebih tertarik lari-larian sepanjang museum yang sebenernya nggak begitu besar.
Nggak lama, beberapa mulai nyamperin para orang tua dan nanya tentang benda-benda yang ada di sekitar museum. Ben sang kepala suku, ternyata semangat banget tiap liat ada bendera Indonesia (meskipun cuma gambar bendera di layar monitor) langsung kasih hormat! Yang lalu diikutin sama anak-anak cowok yang ngiterin dia ke mana pergi.
Di dalam museum banyak banget yang bisa anak-anak lihat, dan banyak juga yang bisa dijadiin bahan obrolan. Lepas dari kenal atau tidak dengan orang-orang yang ada di tiap foto, ngerti atau nggak tentang sejarah Konferensi dan dampaknya untuk negara kita, museum itu sebenernya bisa banget jadi tempat menyenangkan untuk orang tua dan anak-anak, berapapun usia mereka.
Jadi, nggak perlu ragu untuk menikmati serunya museum dengan anak-anak atau bayi sekalipun yaa! Kalau kita bisa enjoy, mereka juga bisa kok menikmati suasana di dalam museum. Tinggal pinter-pinternya kita aja untuk bikin suasana tetap menyenangkan meski tempatnya terkesan serius. Daaaann, siap-siap jangan sampai bosan nerima pertanyaan ini itu dari si kecil tentang segala sesuatu yang ada di dalam museum!
Masuk ke Museum KAA ini gratis. Di dalamnya bersih, rapih, toiletnya juga bersih (penting!). Di dekat pintu ke luar, gue sempet liat ada perpustakaan. Tapi karena di dalamnya cukup ramai, dan kita sadar anak-anak nggak bakal bisa diem di dalem perpus dan takut malah mengganggu pengunjung lain, jadi kita putuskan untuk nggak masuk.
Tadinya habis dari Museum KAA kita mau lanjut naman di Taman Alun-Alun, tapi berhubung sore itu hujan turun deras banget, jadilah kita batal naman dan lanjut mamam cantik sore-sore. :D
Outing pertama March+ Bandung bulan ini kita putusin (secara mendadak sehari sebelumnya) untuk berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika Bandung, hari Jumat lalu. Ada 6 toddlers dan 2 preschoolers yang ikutan hari itu.
Beberapa orangtua mungkin memutuskan untuk menunggu sampai si anak bisa benar-benar "ngerti" isi museum yang akan dikunjungi. Tapi menurut beberapa artikel yang gue baca seperti di sini, ini dan ini, nggak ada patokan khusus umur berapa anak-anak sebaiknya diajak ke museum.
Pada dasarnya, anak-anak suka dengan hal-hal baru. Tinggal gimana kitanya aja sebagai orangtua ngenalin hal tersebut sama mereka.
Sebelum masuk ke dalam Museum KAA, kita makan dulu di teras museum, karena beberapa anak (dan emaknya) ada yang belum makan siang. Di teras museum ini ada beberapa meja dan kursi yang bisa dipakai untuk umum. Sementara nunggu yang pada makan, anak-anak cowok ini main perosotan di ram depan pintu masuk museum.
Jangan heran yaa, kalau sering liat foto macam gitu, hehee.. Kami memang terbiasa membiarkan anak-anak bermain semaunya, selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. They are just kids, and they need to explore pretty much everything, so chill out moms!
Bayangin kalau kita di posisi mereka, pasti isi otaknya kurang lebih begini..
"Waaahh.. yang ini jalannya miring. Bisa nggak yah dipake sliding?? (lalu dicobalah)
Yay, bisaaaaa..!! (lalu dicoba lagi, lagi, lagiii...)"
As simple as that! Nggak perlu dibikin pusing lah yaaa..
Anyway, ketika masuk ke dalam museum, anak-anak memang tampak nggak tertarik sama foto-foto yang terpajang lengkap dengan cerita seputar KAA yang berlangsung pada tahun 1955 itu. Mereka lebih tertarik lari-larian sepanjang museum yang sebenernya nggak begitu besar.
Nggak lama, beberapa mulai nyamperin para orang tua dan nanya tentang benda-benda yang ada di sekitar museum. Ben sang kepala suku, ternyata semangat banget tiap liat ada bendera Indonesia (meskipun cuma gambar bendera di layar monitor) langsung kasih hormat! Yang lalu diikutin sama anak-anak cowok yang ngiterin dia ke mana pergi.
![]() |
| via Ig-nya Restin |
Jadi, nggak perlu ragu untuk menikmati serunya museum dengan anak-anak atau bayi sekalipun yaa! Kalau kita bisa enjoy, mereka juga bisa kok menikmati suasana di dalam museum. Tinggal pinter-pinternya kita aja untuk bikin suasana tetap menyenangkan meski tempatnya terkesan serius. Daaaann, siap-siap jangan sampai bosan nerima pertanyaan ini itu dari si kecil tentang segala sesuatu yang ada di dalam museum!
Masuk ke Museum KAA ini gratis. Di dalamnya bersih, rapih, toiletnya juga bersih (penting!). Di dekat pintu ke luar, gue sempet liat ada perpustakaan. Tapi karena di dalamnya cukup ramai, dan kita sadar anak-anak nggak bakal bisa diem di dalem perpus dan takut malah mengganggu pengunjung lain, jadi kita putuskan untuk nggak masuk.
Tadinya habis dari Museum KAA kita mau lanjut naman di Taman Alun-Alun, tapi berhubung sore itu hujan turun deras banget, jadilah kita batal naman dan lanjut mamam cantik sore-sore. :D















































