Slow Parenting Practice

June 21, 2015

Hampir tiap sore gue ajak Qavi jalan keliling komplek, kalau seharian itu kita nggak ke luar. Q punya kebiasaan yang (menurut gue) agak unik, dia suka mampir ke pagar orang lain, sekedar nengok ke dalam, liat-liat ada apa di balik pagar, atau cuma buat jalan naik-turun di bagian depan pagar yang biasanya agak menanjak. Gue? Biasanya gue biarin aja dulu beberapa menit, sampai dia puas lalu ngajak jalan lagi. 


Bukan maksud nggak sopan nengokin halaman rumah orang lain tanpa permisi, apalagi kadang gue memang nggak kenal juga sama yang punya rumah. It's simply because I just want to let his imagination to thrive. Gue nggak tau apa yang ada di pikirannya saat itu, karena Qavi memang belum jago bicara. Lagian toh kita juga lagi jalan-sore-santai, jadi santai ajaaaa lah yaaa..


Tapi nyatanya, nggak setiap saat gue bisa sesantai itu menikmati kebersamaan bareng si bocah. Pernah nggak sih kita buru-buruin anak-anak padahal kita sendiri nggak lagi buru-buru amat?? Dan karena itu juga kita kadang memaksa anak untuk ngikutin pola kita. Judulnya jalan-jalan tapi si bocah kita suruh cepetan jalannya. Padahal kita nggak tau apa yang lagi mereka pikirin saat iseng nengok lama-lama ke pagar tetangga, atau saat mereka berhenti sejenak ngeliatin batu atau daun kering di pinggir jalan.

Beberapa minggu yang lalu gue baca artikel tentang slow parenting di blognya Jo, yang kemudian mau nggak mau menyeret gue untuk baca artikel lain tentang hal yang sama di Boston Globe

"As an adult, I just move at a faster pace than they do, and I’m also not great, generally, at relaxing, even on my own time."

My first thought was - thanks God there is other mom out there that feels the same way as I do! But stop right there! Dengan pola seperti itu, kita bisa kehilangan banyak momen berharga, meski kita selalu ada di samping si kecil 365hari/tahun alias setiap hari!

Slow parenting berarti tidak lagi terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Simply slowing down for a while and make meaningful connections with your family. 

“These days when everyone is so busy, we need to be intentional about making space for family time. Like all of our other activities, we need to mark it on the calendar.” Family time, says Contey, is different for all of us. “You might say, ‘we’re all here on Thursday mornings, so let’s make a leisurely pancake breakfast’; or one night a week take a walk in the dark before bed. Something like that can feel really special and the kids will remember it as they get older.”

Bener juga! Yang akan diingat sama anak-anak adalah masa-masa menyenangkan (dan menyebalkan) bersama kita, orangtuanya. Kita juga gitu, kan? Gue, gitu banget! hahaa.. Jadi gue rasa keputusan kami untuk nggak buru-buru nyekolahin atau ngejejelin Q dengan beragam aktivitas yang terlalu diatur udah ok lah yaa.

Jadi kenapa nggak kita coba sesekali untuk lebih santai? Nggak terpaku sama jadwal kegiatan ataupun segala planning yang udah kita siapin atas nama demi kehidupan yang lebih baik kelak. Nikmatin momen-momen ketika lagi bareng sama si kecil, sedang apapun itu. Mungkin kita akan menemukan hal-hal kecil yang sebelumnya nggak keliatan. 


Waktu mau belanja di supermarket, gue biarin Q milih mau bawa keranjang atau troley, lalu dia milih bawa keranjang dorong, mungkin menurut dia lebih match sama body kiciknya. Lalu dia maunya dia yang bawa keranjang dorongnya, jadi momonya ngajarin gimana cara yg enak buat narik si keranjang, dan setiap barang yang gue ambil, dikasihin ke Qavi untuk dimasukin ke dalam keranjang. Ternyata dia suka berhenti sejenak dan merhatiin apa-apa aja yang gue ambil, sebelum akhirnya dimasukkin ke keranjang. 

Dengan begitu waktu belanjanya memang jadi lebih lama, tapi yasudahlah yaa.. Hari itu udah sore dan kita memang nggak lagi buru-buru mau ke mana juga, so chill out! 

“Take a moment to drink them in. Remember and remind yourself how remarkable your children are. That pause alone, even if momentary, can drive a shift in the pace.”

Karena anak-anak nggak akan selamanya jadi anak-anak.. :)
So, dare to try out a slow parenting?

You Might Also Like

2 comments

  1. Bagus juga tulisannya Pritz.. banyak benernya juga dipikir-pikir.
    Kebuka satu wawasan lagi dlm cara lain mendidik anak nih ya..

    Satu hal lagi yang menarik, "Karena anak-anak nggak akan selamanya jadi anak-anak.. :)"
    But remember, boys will always be boys!! ahaha..
    Mungkin beberapa taun ke depan lo bakal bikin tulisan tentang yang itu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaahh..ada ikooww.. makasi kooow.. semoga bisa bikin tenang n lebih santai ngadepin si kecil, hihiii..

      Indeed! Boys will always be boys no mater what! hahahaa.. mungkin soon bakal gue bahas secara sekarang gue berasa punya 2 bocah, Qavi n Qavi Sr. :D

      Delete

The Dancing Fingers

Flickr Images